Analis Kriminal, Detektif Jubun Uji Klaim Influencer yang Mengaku Ahli IT: Keahlian Hacker Harus Dibuktikan, Bukan Sekadar Sensasi

Analis Kriminal, Detektif Jubun Uji Klaim Influencer yang Mengaku Ahli IT: Keahlian Hacker Harus Dibuktikan, Bukan Sekadar Sensasi

JAKARTA – Beritapolri.com || Fenomena sejumlah figur media sosial yang mengklaim memiliki kemampuan luar biasa dalam dunia teknologi informasi dan peretasan menjadi perhatian Analis Kriminal sekaligus Detektif Swasta, Jubun.

Menurut Jubun, popularitas seseorang di media sosial, keberanian mengkritik pemerintah, maupun kemampuannya menggunakan istilah-istilah teknologi yang rumit tidak serta-merta membuktikan bahwa orang tersebut benar-benar memiliki kompetensi sebagaimana yang diklaim.

Jubun mengungkapkan pengalamannya ketika berinteraksi dengan seorang influencer yang mengaku memiliki keahlian di bidang teknologi informasi dan keamanan siber.

Sosok tersebut, menurut pengamatan Jubun, kerap tampil di media sosial dan YouTube dengan menyampaikan kritik lantang terhadap sistem keamanan perbankan maupun pemerintah, khususnya terkait persoalan kebocoran data.

Awalnya,Jubun mengaku tertarik karena menilai figur tersebut memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis yang mumpuni.

"Saya awalnya mengira orang tersebut memang sangat ahli di bidang teknologi informasi.Cara bicaranya meyakinkan, sering mengkritik bank dan pemerintah mengenai kebocoran data. 

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia investigasi, tentu saya tertarik untuk mengenal dan mempelajari kemampuannya," ujar Jubun.

Namun, setelah berkomunikasi dan melakukan sejumlah pengujian langsung,Jubun justru menemukan hal-hal yang membuatnya meragukan klaim kemampuan teknis tersebut.
Klaim Mampu Meretas Email Ternyata Tidak Terbukti dalam Pengujian Jubun menceritakan bahwa komunikasi awal berlangsung melalui media sosial dan kemudian berlanjut melalui WhatsApp.

Dalam komunikasi tersebut, sang influencer mengklaim mampu mengetahui informasi perangkat telepon seluler yang digunakan Jubun, termasuk alamat IP dan jenis perangkat.
Bahkan, menurut Jubun, sosok tersebut juga mengklaim mampu mengakses akun email miliknya.

Untuk meyakinkan Jubun,orang tersebut memperlihatkan sebuah email yang seolah-olah dikirim menggunakan alamat email Jubun sendiri.

Pada awalnya, Jubun sempat terkejut dan menduga akun emailnya telah berhasil diretas.
Namun,setelah melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan pihak yang memahami keamanan siber, Jubun mengetahui adanya teknik yang disebut email spoofing.

Teknik ini memungkinkan identitas pengirim email dimanipulasi sehingga sebuah pesan tampak berasal dari alamat tertentu,tanpa harus membuktikan bahwa akun email tersebut benar-benar telah diretas.

"Awalnya saya mengira email saya berhasil ditembus. Tetapi setelah saya pelajari, ternyata ada teknik email spoofing. Jadi,seseorang bisa membuat email seolah-olah berasal dari alamat kita, padahal itu belum membuktikan bahwa akun tersebut berhasil diakses," jelas Jubun.

Menurutnya,demonstrasi semacam itu berpotensi menimbulkan persepsi keliru di kalangan masyarakat yang belum memahami mekanisme keamanan teknologi informasi.
Ditantang Membuktikan Kemampuan, Hasilnya Tidak Sesuai Klaim Untuk memastikan kemampuan yang sebelumnya disampaikan, Jubun kemudian melakukan pengujian secara langsung.
Salah satu pengujian berkaitan dengan kemampuan melacak lokasi seseorang melalui nomor telepon seluler.

Menurut penuturan Jubun, influencer tersebut mengirimkan sebuah tautan yang harus dibuka terlebih dahulu agar informasi lokasi perangkat dapat diperoleh.

Jubun menilai metode tersebut berbeda dengan kesan kemampuan pelacakan langsung yang sebelumnya disampaikan.

Pengujian berikutnya dilakukan menggunakan nomor telepon kedua milik Jubun.Nomor tersebut tidak diberitahukan sebagai miliknya, sementara perangkat telepon berada di dalam tas yang dibawanya.

Ketika diminta menentukan lokasi nomor tersebut,hasil yang disampaikan ternyata tidak sesuai dengan lokasi perangkat yang sebenarnya.

Tidak berhenti di situ,Jubun juga meminta pembuktian terhadap klaim bahwa akun emailnya telah berhasil diretas.

Ia meminta orang tersebut menyebutkan isi kotak masuk email sebagai salah satu bentuk verifikasi atas klaim akses tersebut.Namun, menurut Jubun, permintaan pembuktian itu tidak berhasil dipenuhi.

"Kalau seseorang mengaku sudah berhasil masuk ke email saya, tentu harus ada bukti yang relevan. Ketika saya meminta isi inbox disebutkan, ternyata tidak bisa.Begitu juga ketika saya menguji kemampuan pelacakan lokasi, hasilnya tidak sesuai," ungkap Jubun.

Pengalaman tersebut membuat Jubun semakin menyadari pentingnya membedakan antara klaim kemampuan teknologi dengan kompetensi yang benar-benar dapat dibuktikan.

Lantang Mengkritik Pemerintah Belum Tentu Memiliki Kompetensi Jubun menegaskan bahwa dirinya tidak mempersoalkan hak seseorang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah,perbankan,maupun institusi lainnya.

Menurutnya,kritik merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi,terlebih jika berkaitan dengan perlindungan data pribadi dan keamanan informasi masyarakat.

Namun,kritik yang menyangkut persoalan teknis semestinya didukung oleh pengetahuan, metodologi,dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Berani mengkritik pemerintah atau perbankan bukanlah sesuatu yang salah.Tetapi masyarakat juga harus memahami bahwa keberanian berbicara tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan teknis seseorang," tegas Jubun.

Ia menilai bahwa perkembangan media sosial telah memungkinkan siapa pun membangun citra sebagai seorang ahli melalui konten, penampilan,dan gaya komunikasi yang meyakinkan.

Padahal, menurutnya, kompetensi profesional tidak cukup dinilai dari popularitas atau jumlah pengikut.

"Jangan sampai seseorang dianggap pakar hanya karena sering berbicara lantang, menggunakan istilah teknologi yang sulit dipahami masyarakat, atau berulang kali mengkritik kelemahan sistem keamanan pihak lain. Keahlian harus diuji melalui fakta dan pembuktian," tambahnya.

Analis Kriminal Ingatkan Bahaya Sensasi di Dunia Keamanan Siber Sebagai Analis Kriminal,Jubun mengingatkan bahwa persoalan keamanan siber merupakan bidang yang serius karena berkaitan dengan perlindungan data pribadi,keamanan finansial, serta potensi tindak pidana.

Oleh sebab itu, informasi mengenai kemampuan peretasan, penyadapan, maupun pelacakan lokasi tidak boleh disampaikan secara berlebihan tanpa dasar teknis yang jelas.

Ia juga menyoroti adanya risiko ketika masyarakat terlalu mudah mempercayai figur yang mengklaim mempunyai kemampuan mengakses data pribadi seseorang.

Menurut Jubun, ketakutan terhadap peretasan dapat membuat masyarakat mudah terpengaruh oleh demonstrasi yang terlihat canggih, padahal belum tentu membuktikan kemampuan sebagaimana yang diklaim.

"Teknologi seharusnya digunakan untuk memberikan edukasi dan perlindungan kepada masyarakat, bukan untuk menciptakan ketakutan atau membangun sensasi. Jangan sampai istilah hacker justru menjadi alat untuk memperoleh popularitas tanpa kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Meski demikian,Jubun menekankan bahwa pengalaman pengujiannya merupakan penilaian terhadap klaim-klaim tertentu yang disampaikan dalam interaksi tersebut, bukan kesimpulan menyeluruh mengenai kemampuan seseorang.
Kebenaran Tidak Ditentukan oleh Popularitas
Jubun berharap pengalamannya dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar lebih kritis terhadap berbagai klaim keahlian yang beredar di media sosial.

Menurutnya, dunia investigasi dan keamanan siber memiliki satu prinsip mendasar yang sama, yakni setiap pernyataan harus dapat diuji berdasarkan bukti.

Popularitas,keberanian berbicara, maupun kemampuan membangun citra tidak dapat menggantikan pembuktian objektif.

"Di dunia investigasi, kami tidak menilai seseorang dari seberapa lantang dia berbicara atau seberapa banyak orang yang mengaguminya. Kami menilai berdasarkan fakta, metode, dan hasil yang dapat dibuktikan," kata Jubun.

Ia pun menutup dengan pesan bahwa integritas dan kompetensi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari profesionalisme.

"Orang yang benar-benar memiliki kemampuan tidak membutuhkan sensasi untuk membuktikan kehebatannya. Sebab, keahlian berbicara melalui pembuktian, sedangkan kebenaran tidak pernah membutuhkan popularitas untuk tetap menjadi kebenaran," pungkas Jubun. Jadikan berita di IG bertapolri.com

(Red/Ar)