Money Game Berlabel Syariah Manipulasi Emosi, Detektif Jubun:Waspadai Harapan Dan Ketidak Sabaran

Money Game Berlabel Syariah Manipulasi Emosi, Detektif Jubun:Waspadai Harapan Dan Ketidak Sabaran
Money Game Berlabel Syariah Manipulasi Emosi, Detektif Jubun:Waspadai Harapan Dan Ketidak Sabaran
Jakarta – Beritapolri.com || Siapa yang tidak tergiur dengan janji passive income melimpah tanpa kerja keras? Di tengah tren gaya hidup mewah yang melanda media sosial, tawaran investasi dengan imbal hasil besar seringkali tampak sebagai oase di padang pasir. Namun, banyak orang justru terjebak dalam money game, bahkan saat ini label "Syariah" kerap disalahgunakan untuk melumpuhkan logika calon korban.
 
Detektif swasta Jubun, yang telah menangani banyak kasus penipuan investasi, mengungkap bahwa pola lama penipuan terus muncul dengan kemasan baru. Menurutnya, orang pintar sekalipun bisa tertipu bukan karena kurang cerdas, melainkan karena emosi yang dimanipulasi.
 
"Pada dasarnya, money game itu memanfaatkan dua titik lemah manusia: harapan dan ketidaksabaran," ujar Jubun.
 
Janji keuntungan besar dalam waktu singkat seringkali membuat nalar kritis menjadi tidak berfungsi. Banyak orang lebih fokus pada bayangan barang mewah yang ingin dibeli daripada mempertimbangkan risiko kehilangan modal utama.
 
Embel-embel agama kini menjadi tameng paling ampuh bagi pelaku penipuan. Label Syariah memberikan rasa aman palsu secara moral dan spiritual. "Banyak orang merasa aman secara moral. Mereka berpikir, 'Ini syariah, berarti halal dan aman,' tanpa benar-benar memeriksa model bisnisnya," jelas Jubun.
 
Pelaku biasanya menggunakan testimoni palsu, simbol-simbol agama, bahkan menggandeng tokoh agama untuk meyakinkan publik. Akibatnya, banyak investor mengabaikan pemeriksaan legalitas karena merasa telah "diberkati".
 
Meski kemasannya berubah dari investasi perkebunan, emas, hingga kripto syariah, inti sistemnya tetap sama: Skema Ponzi. Tidak ada bisnis riil yang berjalan, karena keuntungan yang dibagikan berasal dari setoran anggota baru. Begitu arus dana melambat, sistem akan runtuh dan pelaku menghilang dengan alasan klasik seperti uang dibawa admin, server error, atau direksi sedang di luar negeri.
 
Sebagai detektif, Jubun tidak mengejar alasan klise tersebut, melainkan jejak yang ditinggalkan pelaku di dunia digital. "Saya mempelajari pola, identitas digital, relasi bisnis, hingga kebiasaan mereka di media sosial. Ponsel bisa diganti, akun bisa ditutup, tapi pola hidup itu sulit disamarkan," tambahnya.
 
Untuk menghindari tabungan hasil kerja keras terjebol ke kantong penipu, Jubun menyarankan untuk menerapkan tiga filter sederhana sebelum menyetor uang:
 
- Too Good to be True? Jika keuntungannya terlalu indah untuk jadi kenyataan, biasanya memang tidak nyata.

- Cek Alur Bisnisnya Selalu tanyakan bagaimana dan di mana uang akan dipergunakan. Jawaban yang tidak jelas atau berputar-putar adalah tanda bahaya.

- Berani Berkata Tidak Jangan malu menolak, karena lebih baik kehilangan "kesempatan" daripada kehilangan tabungan bertahun-tahun.
 
"Investasi memang tentang kecepatan menangkap peluang, tapi logika tidak boleh ditinggalkan. Lakukan riset mendalam atau konsultasi dengan ahli sebelum bergabung dalam komunitas investasi mana pun," tegas Jubun.
 
Menurutnya, konsultasi sejak awal jauh lebih murah dibanding biaya memulihkan kerugian. "Ingat, investasi yang sehat bukan hanya soal menambah saldo rekening, tapi juga menjaga ketenangan pikiran dan masa depan keluarga. Jangan sampai semangat untuk halal justru membawa kita ke jalan yang salah karena kurang waspada," pungkasnya.

RED
Editor : Ari