![]() |
| Detektif Jubun: Penipuan AI Mengintai, Masyarakat Harus Lebih Hati-Hati |
Jakarta – Beritapolri.com || Keamanan informasi dan identitas kini berada di ujung tanduk seiring dengan maraknya penipuan berbasis Artificial Intelligence (AI). VIDA (PT. Indonesia Digital Identity), perusahaan penyelenggara sertifikasi elektronik, melaporkan lonjakan drastis penipuan AI di Indonesia.
Hingga akhir 2024, industri keuangan lokal mencatat kenaikan penipuan berbasis AI hingga 1.550%. Secara global, penyalahgunaan teknologi AI juga melonjak 700%. Fenomena ini menuntut langkah proaktif dari semua pihak, serta edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait modus penipuan AI yang semakin canggih.
Deepfake: Senjata Utama Para Penipu
Detektif swasta Jubun, mengungkapkan bahwa AI membawa risiko signifikan dalam bentuk penipuan, salah satunya adalah deepfake.
"Deepfake mencakup foto palsu, video, hingga kloning suara," jelas Jubun.
Data VIDA menunjukkan peningkatan deepfake di Asia-Pasifik mencapai 1540% dari 2022 ke 2023. Deloitte bahkan memperkirakan penipuan deepfake akan merugikan hingga puluhan miliar dolar secara global pada tahun 2027.
"Banyak tokoh publik di Indonesia menjadi korban deepfake. Video mantan presiden Soeharto berpidato adalah salah satu contohnya," imbuh Jubun.
Meskipun terlihat menghibur, deepfake berpotensi menipu dan menyebarkan informasi yang salah, serta mengancam keamanan digital.
Rekayasa Sosial dan Peretasan Data: Ancaman Nyata
Jubun juga menyoroti rekayasa sosial atau peretasan sebagai contoh lain penipuan AI. Serangan phishing dengan teknologi AI menggunakan algoritma untuk menyusun pesan yang sangat personal dan meyakinkan, meningkatkan kemungkinan mengelabui penerima.
"Anda mungkin pernah menerima SMS atau WhatsApp berisi link dari nomor asing? Itu contoh upaya rekayasa sosial," ujar Jubun.
Mengklik tautan tersebut berisiko peretasan ponsel atau akun. Tahun lalu, seorang pengusaha aksesoris di Malang merugi 1,4 miliar rupiah akibat mengklik link undangan pernikahan berformat apk.
Studi KnowBe4 menunjukkan bahwa taktik ini digunakan pada lebih dari 90% serangan phishing. Penjahat siber menggunakan AI untuk menganalisis media sosial dan data online, lalu merancang serangan rekayasa sosial yang bertarget dan persuasif.
Kerentanan psikologis korban dan lemahnya pengamanan seperti password serta tidak aktifnya two factor authentication menjadi celah untuk memanipulasi, yang sering digunakan dalam pengambilalihan akun (Account Takeover).
Account takeover memungkinkan penipu mengakses akun perbankan, kredit, e-commerce, atau media sosial pengguna secara ilegal.
Pencurian Identitas dan Pemalsuan Dokumen: Bahaya Mengintai
Detektif Jubun juga mewanti-wanti terhadap pencurian identitas dan pemalsuan dokumen, yang berpotensi merusak citra, menjatuhkan skor kredit, hingga memicu kerugian finansial.
"Dugaan kebocoran data eHAC saat pandemi Covid-19 lalu adalah contohnya. Jika data-data yang bocor ini diperjualbelikan, bisa digunakan untuk pengajuan kartu kredit, pembelian barang secara kredit, hingga pinjaman online," jelas Jubun.
Penipuan love scam juga termasuk dalam kategori pencurian identitas. Penipu menggunakan AI untuk menulis secara meyakinkan dalam bahasa korban, membuat foto profil palsu, mendekati, melibatkan emosional, sebelum akhirnya menipu.
Tips dari Detektif Jubun: Verifikasi Seb2. Detektif Jubun: Penipuan AI Mengintai, Masyarakat Harus Lebih Hati-Hati!elum Percaya!
Meskipun teknologi semakin canggih, Detektif Jubun memberikan tips untuk selalu melakukan verifikasi agar terhindar dari penipuan AI dan lainnya. Ia berpesan agar sebaiknya melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum mempercayai sesuatu.
RED
